Selasa, 04 Desember 2018

[Review] Bumi Manusia, Kisah Cinta Masa Kolonial

Bumi Manusia


"Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput." - Nyai Ontosoroh

Sebenarnya aku merasa belum pantas jika tulisan ini disebut dengan review, karena karya ini bukanlah karya sembarangan. Karya sastawan Indonesia yang sudah fenomenal bahkan pernah diusulkan untuk mendapatkan Nobel Sastra. Luar biasa bukan.

Minke, seorang pribumi yang tidak memiliki nama keluarga seperti kebanyakan orang eropa. Ia memiliki jiwa bebas dan berprinsip pada apa yang ia keyakinan dan apa yang dianggapnya benar. Tapi terkadang memang manusia tak ada yang selalu benar. Ada saja keterbatasan pemahaman dan pengetahuan yang mempengaruhi tindakannya.

Meski begitu Minke adalah seorang pemuda yang pemberani. Tak gentar dengan pandangan sosial yang menghakiminya ketika hatinya telah jatuh pada seorang dara cantik bernama Annelies Mellema. Putri dari Sanikem alias Nyai Ontosoroh yang merupakan gundik yang dijual oleh orang tuanya sendiri kepada orang belanda bernama Herman Mellema.

Annelies ini memiliki kecantikan yang tiada tara, mengalahkan dewi-dewi. Membuat Minke jungkir - balik yang harus dihadapinya demi mendapatkan Annelies. Dara secantik itu.

Dan Nyai Ontosoroh bukanlah sembarang gundik. Menurutku Nyai ini adalah tokoh yang paling kuat kepribadiannya. Kokoh akibat tempaan badai kehidupan. Hanya dengan otodidak, dia mampu menjalakan perusahaan, menanamkan kemarindirian pada Annelies, dan bisa berbahasa belanda dengan fasih.

Nyai bukan sembarang Nyai. Kebiasaannya membaca buku apa saja telah membuatnya kaya ilmu tanpa mengenyam pendidikan formil. Olehnya kita diajarkan jika kita bisa belajar dari mana saja. Tak melulu di bangku sekolah.


"Cerita, Nyo, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biar pun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa, atai dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat difahami daripada sang manusia." - Nyai Ontosoroh

Melalui buku ini, aku jadi bisa membayangkan suasana Hindia Belanda pada masa kolonial. Bagimana masyarakatnya, budayanya, dan konfliknya. Seperti menaiki mesin waktu. Dengan dokar sebagai alat transportasi. Sawah, ladang yang luas, dan hutan masih merajalela.

Karenanya dengan sabar aku menikmati buku ini, tanpa terburu-buru. Meresapi setiap waktu bersama para tokohnya.

Terima kasih Mbah Pram.

Salam,
Ning!



Selasa, 13 November 2018

[Review] Q & A, Bukan Kisah Romance Mainstream

Q & A by Sherina Salsabila
Sherina Salsabila memulai debutnya di dunia teenlit dengan Q & A. Remaja yang kini sudah beranjak dewasa yang sudah menulis puluhan buku anak dan menyabet beberapa penghargaan dari Kementrian Kebudayaan dan Pendidikan ini, kini menjajal dunia kepenulisan baru. Baiklah yuk kita intip blurbnya:

Ini adalah kisahku, Azaleya, si 'phobia' sekolah. Gadis yang sangat benci sekolah sampai ke ubun-ubun, bahkan menjalar hingga ke hati.

Dalam kisah ini, aku tak sendirian, karena ini juga tentang dirinya, Qeenan. Sosok cowok misterius dengan senyum manisnya, yang membantuku ‘berpetualang’ menjelajahi masa SMA.

“Q & A?” Seringkali, mereka mengartikan 2 huruf itu, sebgai ‘Question & Answer’. Tentu saja, ini agak berbeda dengan kisah kami, ‘Qeenan dan Azaleya.’ Ya, karena “Q” di kisah ini, terlalu banyak menyimpan Tanya itu di benaknya sendiri. Sehingga, “A” hanya bisa mengaguminya saja dari jauh, tanpa menemukan jawaban yang pasti.


Lalu, apakah “Q & A” masih bisa untuk tetap bersama? Atau justru, “Q & A” itu memang diciptakan seperti 2 huruf terpisah dan tak saling membutuhkan? Jadi, selamat bertanya dan mencari jawaban sendiri.

Bukan teenlit romance biasa

Dari covernya yang pink mungkin akan banyak yang berasumsi kalau ini novel teenlit romance. Nggak salah juga sih, tapi jangan berharap kamu akan nemuin kisah mainstream ala remaja yang awalnya benci - pdkt - jadian ya... Karena kisah ini unik, bukan soal cinta yang bikin gundah gulana, tapi soal perjuangan Azaleya yang struggling menghadapi sekolah & dirinya sendiri. .

Dirinya sendiri? Yapz, kadang cara berpikir dan prasangka mampu mempengaruhi psikologi diri. Dan di sinilah Qeenan berperan, dengan kebijakan, perhatian, dan senyumnya mampu menarik keluar Azaleya dari dunia yang ia ciptakan sendiri. Dunia dengan prasangka yang sebenarnya tidak seperti itu jika Azaleya mau membuka diri. .
  
Terinspirasi dari pengalaman pribadi

Beberapa kali Sherina menyebutkan dalam insta storynya jika kisah ini ditulis terinspirasi dari pengalaman pribadinya semasa SMA. Masa yang tidak begitu Indah karena Sherina sendiri menajdi korban bullying.

Bebeda dengan tindakan kriminal yang dilakukan satu orang, bullying lebih kepada hukum sosial. Dimana semua teman-teman bahkan guru bertindak tidak menyenangkan dan sering melempar sindiran. Lidah tak bertulang, kadang saat berkata-kata orang tidak pernah berpikir bahwa kata yang terlontar akan menyakiti hati orang lain. Membekas, hingga menimbulkan trauma.

Tapi untunglah Sherina adalah remaja yang tangguh dan mampu membuktikan jika ia lebih hebat dari para pembuli. Sekarang Sherina kuliah di Ankara, Turki dengan full beasiswa. Keren banget nggak sih?!


Rating: 3/5

Penulis: Sherina Salsabila | Editor: Dono Salim | Penata Letak: Dwi Watini | Desain Sampul: Wilma Prima | Ilustrasi Tokoh: Wilma Prima | Penerbit: Moka Media | ISBN: 978-602-51993-5-6


Salam kutu buku,
Ning!